Pages

11.12.11

---

semua berhenti. detak jantungku tiba-tiba berhenti. ketika itu aku hanya membaca sebuah kalimat. ketika itu aku hanya tersadar, itu bukan sebuah perasaan. itu benar-benar terjadi. aku membiarkan hujan turun dalam mataku. membiarkannya mengalir sampai habis. membuatku menjauh dari kenyataan. karena ketika hujan turun, aku tidak bisa melihat dengan jelas. aku berhenti mengetik. hanya untuk melepaskan hujan. aku di sini. di depan laptopku. menangis. melepas keraguan dalam hati. terdiam. penat menusuk kepalaku. menangis menghujam hatiku. lemas aku dibuatnya. hanya Tuhan yang tahu. kenapa semua ini terjadi begitu cepat. tanpa aku harus berpikir dua kali.

cinta

keraguanku akan cinta.

MALAM MENYAKITIKU TERLALU DALAM


Malam mendatangi aku, dengan senyumannya yang manja. Melesapkan setiap kepingan penat, panas, dan pasrah ketika malang tiba. Boleh saja aku menangis dalam keheningan malam. Menyambut pagi dengan semangat paksa agar kekasih semangat pula. Untuk (si)apa semua ini? Menyerangku dengan semua Tanya di dada. Menghempaskanku dalam sepinya malam. Aku terjaga. Tanpa tangis. Karna aku tak sanggup menangis. Tanpa senyum. Karna aku tak lagi sanggup tersenyum. Menuliskan setiap cerita yang hanya aku dan kamu yang tahu. Membiarkan setiap cerita menangis untukku. Haruskah aku hentikan semua kekonyolan ini. Agar tidak ada lagi cerita yang menangis? Malam yang dingin. Tubuhku biru beku. Biru suram. Biru runyam. Aku membiarkan malam membekukan diriku. Agar otak dan hatiku beku sehingga pagi membiarkannya mencair dan menjadi panas. Haruskah aku mencintai setiap hal yang membekukanku? Sayangnya, ya, aku mencintai malam. Menunggu datangnnya pagi menyelinap perlahan dalam semangat pagi. Mencairkan kebekuan malam. Sampai detik ini. Aku menunggu pagi. Sampai detik ini. Hatiku masih beku. Sampai detik ini. Malam menemaniku. Ketika aku menunggu pagi. Malam membekukanku. Ah! Tidak hanya beku. Bedarah. Kataku melihat noda merah menggenang disekitar hatiku. Darah tak bertuan. Atau. Aku tak sengaja membiarkan malam menyakitiku diam-diam. Aku mengusap kesakitanku. Menekannya. Hingga perih. Malam menyakitiku terlalu dalam.

15.10.11

Saya Hanya Jatuh Cinta


Saya jatuh cinta. Ketika saya mengingat namanya, hati saya selalu bergetar dan terasa ada yang nyeri di sana.
Saya jatuh cinta. Ketika saya membayangkan wajahnya, hati saya begitu sakit, namun rasanya menyenangkan.
Saya jatuh cinta. Punggung saya panas ketika saya menuliskan 'saya jatuh cinta'.
Saya jatuh cinta. Ketika saya tahu saya jatuh cinta.
Saya jatuh cinta. Maaf jika ada yang terluka ketika saya jatuh cinta.
Saya jatuh cinta. Berharap bisa saya mention di twitter.
Saya jatuh cinta. Saya tahu saya jatuh cinta, ketika hati saya terasa panas dan sakit mendengar dan melihat dia.
Saya jatuh cinta. Ketika bola mata saya selalu mencari sosoknya dikerumunan orang.
Saya jatuh cinta. Ketika saya mulai mencari tahu tentangnya di jejaring sosial.
Saya jatuh cinta. Ketika ada banyak hal tentang dirinya dan saya tidak sanggup mengungkapkannya di sini.
Saya jatuh cinta. Hanya jatuh cinta.

14.10.11

Inilah Alasan


Gw merefleksikan suatu pengalaman yang baru aja gw alami tadi. Jujur, gw sangat amat kaget ketika gw menyadari sesuatu yang hilang belakangan ini.
Keadaannya adalah gw pulang sendiri. Benar-benar sendiri. Melawan segala air mata gw yang mau jatuh. Kondisinya gw saat itu pake wedges yang cukup tinggi. Kejadiaannya, ketika itu gw berjalan dari perpus pusat kampus gw. Gw sengaja berjalan perlahan karena gw merasa tidak mengejar apapun. Gw berjalan sambil merenungi hal yang sedang gw alami dua hari ini (nanti gw jelasin setelah cerita ini berakhir). Gw harus melewati jalan yang berbatu dan agak sedikit rusak. Kaki gw terselengkat dan yak! Gw jatuh tersungkur. TIba-tiba ada tangan yang menarik lengan gw. Tangannya cukup dingin dan halus. Gw tersentak ketika melihat pemilik tangan dingin itu. Bapak-bapak. Cukup tua. Seumur dengan om gw. Seketika gw bilang terima kasih dan tidak apa-apa. Gw pikir berhenti sampai di situ. Ternyata om ini membantu gw menyebrang rel kereta juga. Bahkan mengikuti gw sampai depan gang. Cukup kaget ketika gw ditanya pulang kemana dan dia berniat mengantar gw pulang. Dia sangat khawatir atas kaki gw yang terluka karena jatuh. Karena rumah gw yang jauh, maka gw menolak ajakan om itu. Setelah gw mengingat kembali kejadian gw jatuh dan ditolong om tadi, gw merasakan sesuatu hal yang ternyata kejadian itu sama dengan keadaan gw yang sekarang.
Awalnya gw pikir ini semua hanya perasaan bosan dan jenuh gw akan semua kuliah dan tugas-tugas gw. Tapi persis kemarin, kejadian yang akhirnya menyadarkan gw. Kejadian di mana pacar gw meninggalkan gw di jalan (gw yang minta). Ketika gw melihat si pacar berjalan meninggalkan gw, gw merasa sendiri. Yak! sendiri. alone. sendirian. Gw merasa bahwa gw melewati semua ini sendirian. Ketika itu, adalah hari terakhir gw latian untuk pelayan hari ini. banyak hal yang diubah. banyak hal yang perlu dipahami. Gw butuh semangat. Sangat butuh semangat. Tapi yang gw terima saat itu hanya kebetean dan ketidakpedulian dari orang terdekat gw. Bahkan teman yang harusnya bisa memberi semangat hilang entah kemana. Pacar gw pun sepertinya (sepertinya lho sayaaangg) tidak peduli karena kemarahannya. Alhasil, persiapan gw pun hancur. Gw benar-benar merasa sendirian.
Itulah juga yang gw rasakan ketika si om menolong gw. Awalnya gw pikir gw tidak ditolong oleh siapapun. Gw harus bangun sendiri dan tidak ada yang peduli dengan kaki gw yang terluka. Tapi ternyata ada yang menolong gw. Bahkan ketika gw jatuh, yang menolong gw adalah orang lain yang namanya pun gw ga tau. Sempat gw berpikir, apakah gw butuh mereka? Mungkin jawabannya adalah ya. Gw butuh mereka. Mereka hanya lupa bahwa ada gw yang juga butuh semangat. Ada gw yang juga butuh pelukan. Ada gw yang butuh dipedulikan. Ada gw yang merasa sendirian.
Entah sejak kapan perasaan sendiri ini mulai ada. Tiba-tiba perasaan itu menggerogoti hati gw secara perlahan hingga saat ini. Ketika mengingat perasaan sendiri itu, dada gw sangat sakit. Sakit sekali. Hingga gemetar.
Saat ini, gw menganggap bahwa kejadian jatuh tadi itu adalah teguran dari Tuhan. Tuhan menegur gw dan berkata, "hei! Masih ada yang selalu ingat sama kamu! Masih ada yang peduli sama kamu! Masih ada yang mau mendengarkanmu! Masih ada yang memelukmu. Masih ada yang memberimu semangat! Masih ada yang menemanimu di sini. Jangan merasa sendirian, karena AKU selalu ada di sini untukmu. Bahkan ketika kamu jatuh tersungkur, AKU ada menarik tanganmu dan memelukmu hingga kamu sampai pada tujuanmu. Tersenyumlah! AKU ada di sini!"





ditulis dengan linangan air mata.

27.7.11

L O V E


Yak! Kali ini gw mau ngepost sesuatu yang menjadi pemikiran gw selama siang tadi. Hmm, jangan salah, pemikiran gw ini dipikirkan bersama-sama dengan pacar kedua saya, yaitu @curriexocia! :D
pemikiran ini menimbulkan sebuah teori yang selayaknya bisa Anda praktekan pada orang-orang yang tepat.
Tanpa basa basi. Tanpa banyak bicara (tapi banyak makan), gw akan memulai pemikiran itu.
Dimulai dari membicarakan mengenai kebiasaan sang pacar gw @andikariandito (maaf ya, ngomongin kamu dibelakang ;P). Setelah gw mengingat-ingat dan untung ingatan gw masih setajam silet, pacar gw jarang sekali mengucapkan kalimat kramat (3 kata, 8 huruf, ya you know lah). Ga tau deh kenapa dia begitu. Gw sih ga pernah menuntut dia untuk berbicara itu. Well, gw percaya dia sayang gw. Itu aja dipikiran gw. Tetapi bukankah ada juga lelaki (tsaahh) yang selalu mengumbar kalimat itu? Tanyakan saja pada pacar kedua saya itu. Menurut pengalamannya, dia setiap hari harus mengucapkan kalimat itu. Setiap 10 menit sekali, dia ditelpon pacarnya (sekarang uddah mantan), selama satu jam (ga ngerti maksudnya apa), dan setiap menutup telponnya, mereka (currie dan pacarnya (sekarang mantan)) harus mengucapkan kalimat itu. Sebenernya sih ga salah. Ga ada yang ngelarang. Tapi bukankah kalimat itu menjadi hal yang biasa jadinya, hal yang tidak lagi kramat (spesial).
Kalau menurut pengalaman gw, pacar gw jarang banget ngucapin kalimat kramat (special) itu. Bahkan waktu hari jadi kami pun tidak mengucapkan kalimat itu. Sampai sekarang sih ga ngerasa nyesel. Biasa aja. Cuman yang bikin menuliskan blog ini adalah ketika dia pertama kalinya mengucapkan kalimat itu, terasa sangat hmm, hmmm, manis. :)
Sebenernya sih lebih ke tak terduga dia ngucapin kalimat itu. Begini ceritanya, suatu hari, seperti biasa dia mengantar gw sampai ke suatu tempat untuk naik angkot dan pulang. Ketika itu gw sedang mencari-cari angkot. Tiba-tiba.....
Pacar: Sssttt sstt.
Gw : (merasa terpanggil, nengok)
Pacar: I love you
Gw : (speechless) Love you too :) (tetep speechless)
Dan, gw pun naik angkot. Dan gw pun senyum-senyum sendiri di angkot. Dan gw pun masih inget sampe sekarang. Dan sebenernya gw sama pacar gw baru 4 bulan pacaran. haha. :D
Ya! Itu cerita gw soal kalimat kramat itu. Sebenernya gw mau membandingkan pengalaman gw dan si currie. Ketika kalimat itu diucapkan setiap saat, kalimat itu tidak lagi special. Sedangkan jika kalimat itu jarang diucapkan, kalimat itu akan terasa sangat manis dan sangat special. Maksud dan inti dari post gw ini adalah, hati-hati menggunakan kalimat kramat itu. Jangan sampai kehilangan makna yang sebenarnya.
Sebenarnya, ada hal lain yang mau disampaikan, yaitu tentang teori yang gw bikin. Ketika seseorang (lelaki) sering mengucapkan kalimat kramat itu, semakin sering juga dia akan menyakiti hati wanitanya. Berbanding terbalik dengan kalimat sebelumnya, ketika seseorang (lelaki) jarang mengucapkan kalimat kramat itu, semakin jarang juga dia akan menyakiti hati wanitanya. Kenapa gw kurungin itu lelaki, karena belum dapat dipastikan. hehe.
Gw harap sih teori itu bener. Pasalnya, pacar gw jarang ngucapin kalimat kramat itu. Well, sesering atau sejarang apapun itu, sudah layak dan sepantasnyalah kalian percaya pada pacar kalian masing-masing. :D



Post ini saya dedikasikan untuk pacar saya karena saya sangat percaya padanya dan saya harap dia pun percaya pada saya dan saya harap (lagi) dia tidak menyakiti hati saya. I Love you, Mas Dito! ;) :*

15.6.11

Selingkuh itu


Sudah sekian tahun gw ga nulis blog. Lebay. Apa ya yang membuat gw ga nulis blog untuk beberapa waktu? Kemungkinan karena ga ada lagi yang gw galauin. Jadi sekarang galau? Kurang lebih. Lebih kurang. Lebih lebih. Kurang kurang.
Yak! Seperti biasa. Dimulai dari pertanyaan. Apakah ketidaksetiaan diukur dengan perselingkuhan? Eaaaa. Siapa sih yang selingkuh? Gw kali yang selingkuh. #eh. #ups. No! Bukannya mau menjanjikan, tapi gw adalah seorang perempuan yang jauh dari kata selingkuh. Buat gw selingkuh itu bikin capek. Capek hati. Capek jiwa dan raga. Lalu? Kenapa gw menulis tentang perselingkuhan? Hmm. Karena gw membaca tweet dari penulis kesukaan gw, Andrei Aksana. Selingkuh. Sekalinya selingkuh akan terus selingkuh. Sama aja dengan sekalinya berbohong akan terus berbohong. Kembali ke pertanyaan gw. Apakah ketidaksetiaan diukur dengan perselingkuhan? Sampai tulisan ini dibuat, gw merasa bahwa kesetiaan tidak hanya diukur dari perselingkuhan.
Buat gw, selingkuh adalah salah satu cara bahkan salah satu hal yang paling besar konsekuensinya yang ditimbulkan oleh ketidaksetiaan. Mulainya hanya dari kebosanan. Itu biasanya. Lalu, muncul keinginan untuk memiliki orang lain lagi. Omongan gw mulai ngaco. Gw benar-benar galau. Galauin apa, juga gw ga tau. Yang pasti ketidaksetiaan bukan hanya dari perselingkuhan. Ketidaksetiaan biasanya berawal dari kebohongan. Sepertinya gw sudah membohongi seseorang. Diri gw sendiri mungkin.