Pages

8.5.11

Numpang Lewat

Sebenarnya yang membuatku stress bukan kelakuan dia. Tetapi kelakuan teman-temanku. Aku tahu, mereka sangat tidak menyukai (aku tdk ingin menggunakana kata benci) dia. Aku tahu, mereka menganggap dia sangat berengsek. Tapi bukankah yang mengenal dia adalah aku? Bukankah yang mengetahui keadaan kami hanya aku dan dia? Bukankah kami yang menjalin hubungan, bukan mereka? Jadi? Kenapa mereka memberi saran yang sangat subjektif? Kenapa mereka harus memberi pandangan sinis terhadap kami? Kenapa mereka tidak bisa berpura-pura tersenyum terhadap kami? Hei! Dengan kalian yang begitu, aku sungguh tertekan! Sangat tertekan!

22.4.11

Berdamai dengan Masa Lalu


Setiap orang punya masa lalu. Stuck? Ga boleh! Setiap orang BERHAK punya masa lalu. Saya berhak punya masa lalu. Kamu berhak punya masa lalu. Dia berhak punya masa lalu. Mereka berhak punya masa lalu. LALU, apa MASAlahnya? Masalahnya, bagaimana cara kamu menghadapi masa lalu-mu, masa lalu-nya, masa lalu mereka. Sedikit yang saya pendam dari kemarin (bukan dipendam di hati, tapi di pikiran).
Menurut saya, siapa pun ga berhak mengutak atik masa lalu saya. Dan buat saya, saya juga ga berhak mengutak atik masa lalu siapapun. Kenapa? Karena masa lalu ya masa lalu. Udah lewat, udah kejadian? Mau diapain lagi? Ngelarang buat ga nginget masa lalu? Ngelarang menyimpan semua kenangan dari masa lalu? Nyuruh ngeapus semua kenangan dari masa lalu? Buat apa ngelarang? buat apa nyuruh ngeapus? Emang lebih menenangkan?
Satu hal yang selalu gw inget, ketika kamu mencintai seseorang, berdamailah dengan masa lalunya. Ketika kamu mencintai seseorang, bersahabatlah dengan masa lalunya. Dan yang paling penting, ketika kamu mencintai seseorang, TERIMALAH masa lalunya. Kenapa? Karena kamu mencintai seseorang yang berasal dari masa lalunya. Kalau kamu tidak bisa menerima masa lalunya, berarti kamu juga tidak bisa menerima dia sebagai orang yang kamu cintai. Kalau kamu ngelarang dia buat menyimpan kenangan dari masa lalunya, berarti kamu tidak bisa menerima dia secara sepenuhnya. Setiap orang berasal dari masa lalu. Masa lalu yang membentuknya. Tanpa masa lalu itu, dia tidak bisa menjadi orang yang kamu cintai sekarang ini.
Inti dari post ini atau inti dari pikiran saya beberapa hari ini, cintailah dia beserta masa lalunya. Cintailah dia bukan hanya karena sekarang ini, tapi ingatlah dia berasal dari masa lalu, masa lalu-lah yang membentuknya.

13.4.11

Hambar

Rasa kopi memang enak.

Rasa mint lebih enak lagi.

Tapi tanpa adanya cinta,

baik rasa kopi atau mint

PASTI akan terasa hambar.




*pasti pada ambigu deh mikirnya :P*

9.4.11

Ada Kamu di Timelineku

Ada kamu di timelineku

Tidak ada aku di timelinemu

Ada kamu di timelineku

Tidak ada aku di timelinemu

Ah! Tak apa!

Asal selalu ada aku di hatimu.

Ups! Aku lupa!

Kamu tidak punya hati! :p

Melebarkan 'Jaring' di Jejaring Sosial

Aku menggeleng membaca timelinemu

mengelus dada.

membiarkan kesabaran tumbuh lebih tinggi lagi.

Aku menggeleng (lagi!) melihat kelakuanmu di Twitter, Facebook, dan YM.

Kali ini aku menghela napas.

Membiarkan emosi keluar secara perlahan.

Jejaring sosial.

Tempatmu melebarkan jaring, menambah sosialisasi.

10.3.11


Seperti yang sudah saya janjikan sebelumnya, saya akan memuat di blog ini sebuah foto. Foto apa itu? Yak! Foto bangau-bangau saya yang sudah dipelihara oleh orang lain di sana. Huhuhu. Tiba-tiba kangen sama mereka. Halah!
Sudah berapa minggu yang lalu ya, para bangau itu bertengger di tempat tidur gw. Tiap hari gw liat kertas warna warni. Motongin kertasnya. Yaaaaa... kangen bikin bangau lagi. Tapi gw bikin kayak gitu cuma buat seseorang dan cukup dia aja. Ga bisa lagi bikin bangau kayak gitu buat orang lain. *menghela napas*
Hah! itu aja sih yang mau gw sampein di sini. Hehehe :D
Semoga apa yang gw lakuin bisa menjadi inspirasi bagi orang-orang yang ingin membagi kasih sayang untuk orang yang disayang. Kalau mau belajar bikin bangau-bangauanya bisa hubungin gw melalui facebook atau twitter atau komentar aja di post ini. Terima kasih. :)

8.3.11

Satu Toples Bangau

Oh well! Gw udah lama ga ngepost. Lama banget! Banyak hal yang terjadi dalam hidup gw akhir-akhir ini. Khususnya gw sibuk ngerjain tugas kuliah. Seperti saat ini. Harusnya gw ngerjain tugas. Tapi, gw kangen ngeblog oi! hehe.
Sebenernya gw mau ngepost kalau udah ada foto bangau-bangauan yang gw bikin untuk hadiah ulang tahun gebetan (waktu itu masih gebetan, sekarang? yaa gitu deh :P) gw. Tapiiiii, sang pemilik bangau sekarang ga ngefotoin tuh bangau sampai sekarang. Mungkin sekarang gw ceritain aja kali ya sejarah bangau-bangau itu.
Awal mulanya, gw penasaran setiap kali dia bikin bangau-bangauan di depan gw. Kelihatannya mudah, gampang dan tidak sulit (apa bedanya?), tapi ketika gw mencoba pertama kali membuat bangau-bangauan itu haaahh, sangat sulit, apalagi gw orang yang ga rapi dalam hal lipat melipat kertas. Tapiiiii! Gw bisa bikin satu toples bangau-bangauan! Yeay! Jumlah bangau dalam toples 99 bangau, ditambah dengan satu bangau sebagai suratnya. Sebelum gw membuat 100 bangau itu, gw udah buat kira-kira 50 bangu yang ukurannya lebih besar. Kemana 50 bangau itu? Ada, di kamar, disimpen sama nyokap. Hahaha. Gw memutuskan untuk merubah ukuran bangau tepat lima hari sebelum hari ulang tahun si dia. Dengan kekuatan bulan plus cinta plus kasih plus plus, semua selesai dalam waktu dua hari! Dua hari boo! Gw bikin ke-100 bangau itu dalam waktu dua hari!! *menghela napas*
Kalau ditanya reaksi si penerima bangau, gw ga bisa menggambarkan dengan jelas. Yang pasti gw pribadi agak dag dig dug duer pas ngasih. Satu hal yang belum si penerima tahu (mungkin), setiap bangau dalam toples maupun surat memiliki doanya sendiri-sendiri. Setiap lipatan kertas gw selalu menyebut doa dan harapan. 99 doa dong? Mungkin. Sepertinya ada doa-doa yang gw ulang. Hehe. :D Itulah kenapa gw menyebutkan bangau-bangau itu adalah setengah hati gw yang dengan kerelaan yang sungguh gw berikan kepada si penerima bangau.
Akhir dari si bangau dan hati gw? Hmm, si penerima bangau sekarang adalah kekasih (biar puitis) gw. Gw selalu berdoa untuk hubungan kami. Bukan lagi untuk keegoisan gw, tapi untuk kami. Bukan lagi untuk hati gw, tapi untuk kerelaan gw jika suatu saat kami dipisahkan. Walau setiap doa gw terselip kalimat 'jangan pisahkan kami ya Tuhan'.